Di garis depan. 15 Mei 60 tahun silam. Sejumlah manusia yang hak hidupnya terampas, diinjak-injak, diburu dalam iringan dentuman mesiu. Darah segar mengalir membasahi bumi Al-Quds. Ratusan ribu pasang kaki dipaksa bergerak meninggalkan ladang-ladang zaitun, kurma, lahan peternakan, rumah kecil tempat mereka menyimpan kenangan, dan Al-Aqsha qiblat pertama.
Arsip untuk ‘Pena Buruh Migran’ Kategori
15 Mei; Di Garis depan
Diposkan dalam Pena Buruh Migran pada Mei 15, 2008 | 3 Komentar »
Orang Asing
Diposkan dalam Pena Buruh Migran pada Maret 18, 2008 | Leave a Comment »
Hai..!
Tahu tidak? aku terkadang merasa aneh
Kenapa ada orang-orang ”asing” disekelilingku?
orang “asing” pertama, seorang perempuan
Aku coba mengingatnya..ya!, beberapa tahun lampau perempuan ini tiba-tiba hadir dalam keseharianku
Orang asing kedua, seorang lelaki! Iya!, lelaki..
Membaca, Andrea dan Impian
Diposkan dalam Pena Buruh Migran pada Maret 17, 2008 | 1 Komentar »
Sungguhlah tepat jika wahyu yang pertama sampai kepada Muhammad adalah perintah (fi’il amr) tentang membaca. “Bacalah!..atas nama Tuhanmu yang telah menciptakan”. Begitu arti dari ayat pertama berbunyi. Membaca adalah sebuah gerbang yang akan membuka wawasan dan melahirkan ide serta semangat. Membaca serta harfiah mengandung arti menganalisa tulisan atau buah karya fikiran orang lain. Membaca pun bisa diartikan menyerap atau menyimpan sesuatu yang kita [...]
Kembara Ramadhan
Diposkan dalam Pena Buruh Migran pada September 7, 2007 | Leave a Comment »
Kembara jiwa kembali menemukan pelabuhan untuk sekedar melepas lelah dan penat dari kungkungan nafsu yang membelenggu. Satu persatu setan yang bercokol di mulut, mata, kuping, tangan, kaki undur dulu. Pamit barang sebentar. Setan pun sepertinya ”cuti” dulu dari aktivitas kesehariannya menggoda manusia. Kemanusiaan kita hadir secara utuh. Dalam balutan jasad yang kian rapuh.
Gadis Bercadar
Diposkan dalam Pena Buruh Migran pada September 2, 2007 | 10 Komentar »
Selubung kain hitam
menutup wajah manismu
tinggi semampai, berjalan seperti putri yang sedang melambai-lambai
Nelayan Malang #2
Diposkan dalam Pena Buruh Migran pada Juli 6, 2007 | Leave a Comment »
Biar legit terasa
segayung rindu
aku bakar bersama udang windu
perihnya asap penantian
dalam aroma pedas kekesalan
tak serta merta membuat diriku kegerahan
Waktu berlalu dengan sendu
kusirami rindu agar tak lekas membiru
Hari Sabtu
Senyummu menggelayut
di sudut mataku
Nelayan Malang
Diposkan dalam Pena Buruh Migran pada Juli 6, 2007 | 1 Komentar »
Kepada langit yang bermandikan bintanggemintang
kepada bulan yang sembunyi di bawah ufuk
kepada pencinta malam dengan selaksa kelam
Aku nelayan malang
menebar jaring dan menanam bubu
dalam deras angin menyapu
meminta segayung rindu
Untuk anak dan istriku
untuk Nyai
Diposkan dalam Pena Buruh Migran pada Juni 26, 2007 | 2 Komentar »
Darahku seperti ikut terhisap
saat udara kembali hangat dan basah
dari jauh engkau terus memanggilku
yang suaranya menggema bak gemuruh topan gonu
aku terhempas nyai..!
dan kapalku karam tak berwujud
kini
aku masih tersangkut diantara lumpur hitam
masih mencoba mengingat
pembicaraan kita di sore hari itu
Turun satu centi
Diposkan dalam Pena Buruh Migran pada Juni 15, 2007 | Leave a Comment »
udara semakin panas
Mungkin Matahari sudah turun satu centi
dan aku kian sembunyi di balik jeruji
Ingin kuminta malam tanpa henti
tapi kumalu pada mentari
Karena ia selalu mengabari
sang dewi senang memandangi
saat petang hari
***
mentari,
Tolong kabarkan, bahwa senyum hangatnya
membuatmu turun satu centi
..
Ratna Tantra
Diposkan dalam Pena Buruh Migran pada Juni 10, 2007 | 2 Komentar »
Aku tenggelam dalam jampi tantra
melenguh dalam guyuran peluh
ekstasi dengan semburat senyum
dan
nafasku seolah terhenti diantara degup jantung
yang kian tak beraturan
Andai saja ada Ratna
yang memainkan tarian shinta
Mungkin aku sudah mencapai Nirwana
Ratna..
mainkanlah tantra bersamaku
dalam ayunan desah dan lenguh
yang baranya hangatkan jiwaku