Serat Jayabaya
Syair Jayabaya
Jayabaya’s Word
(sumber; aindra.blogspot.com )
Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran.
Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
One day there will be a cart without a horse.
Tanah Jawa kalungan wesi.
Tanah Jawa berkalung besi.
The island of Java will wear a necklace of iron.
Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang.
Perahu berlayar di ruang angkasa.
There will be a boat flying [...]
Arsip untuk ‘Dongeng Buruh Migran’ Kategori
Serat Jayabaya
Diposkan dalam Dongeng Buruh Migran pada Januari 13, 2008 | Leave a Comment »
Amnesti
Diposkan dalam Dongeng Buruh Migran pada Desember 5, 2007 | Leave a Comment »
Sadik hanya memandang ibunya yang sedang memasukan pakaian ke dalam tas jinjing yang mulai kumal. Tak ada kata-kata yang bisa ia sampaikan sekedar untuk mencoba menahan sang ibu pergi.
“Ibu harus pergi nak!. Surat izin dari majikan ibu yang pertama sudah keluar. Begitu pula dari departemen luar negeri dan keimigrasian. Amnesti ini satu-satunya cara untuk ibu agar [...]
Profil Toto St Radik
Diposkan dalam Dongeng Buruh Migran pada November 11, 2007 | 2 Komentar »
Ia adalah sahabat dan guru ‘-diam-daimku’. Tak perlu aku bercerita banyak tentang pribadi dan pandangannya. CUkup itu disimpan dalam hatiku saja. Toh, kalau aku ceritakan, kalian pun pasti tidak banyak mengenal tentangnya.
Kebetulan, waktu di Serang iseng buat dokumentasi pas doski ultah ke 40 tahun, ini dokumentasinya
Perempuan dari Bint Jbeil (cerbung #3)
Diposkan dalam Dongeng Buruh Migran pada September 16, 2007 | Leave a Comment »
Beint Jbeil sebuah tempat yang indah. Tempat kami sekeluarga hidup berbahagia. Sebelum akhirnya malapetaka itu datang. Malapetaka yang menjadikan kota kami porak poranda tanpa bentuk. Bukan hanya flat dan apartemen yang menjadi pemukiman saja yang hancur tetapi juga fasilitas umum seperti rumah sakit yang baru saja berdiri beberapa tahun terakhir serta fasilitas umum lainnya. Mereka mengklaim di rumah sakit banyak [...]
ABU DHABI; SI KOTA AJAIB (cerbung #2)
Diposkan dalam Dongeng Buruh Migran pada Agustus 10, 2007 | 6 Komentar »
Dari lantai 30 gedung Etisalat aku bisa memandang leluasa kota Abu Dhabi. Si kota ajaib yang mengudang decak kagum para turis manca negara yang berkunjung. Kota yang dijuluki “taman bunga teluk persia” ini memang bukan sekedar isapan jempol. Siapapun yang pertama kali berkunjung ke Abu Dhabi dan berkeliling kota akan dibuat tidak percaya bahwa kota ini berada [...]
Sobekan Kertas itu… (cerbung #1 )
Diposkan dalam Dongeng Buruh Migran pada Juli 27, 2007 | 1 Komentar »
Mustaniyaak.., Kuntu badawwir ‘alaik
(Waiting for you, I was searching for you)
mustanniyak.., bahlam ma’a nafsi biik
(Waiting for you, I dream of being with you)
Sobekan kertas dengan tulisan dua bait puisi di atas tergeletak begitu saja di depan pintu apartemenku. Semula aku tidak begitu menghiraukannya karena pagi ini aku harus sampai segera ke kantor di Hamdan street [...]
KEPADA SEORANG LELAKI
Diposkan dalam Dongeng Buruh Migran pada Juni 4, 2007 | Leave a Comment »
cerpen
KEPADA SEORANG LELAKI
Lawangbagja
Lantai sedingin es. Masihkah aku bermimpi? Aku tak tahu berapa lama aku tergeletak diatas lantai dingin ini. Kubuka mataku perlahan. Satu-persatu kurasakan inderaku. Lantai dingin mengecup pipi dan sekujur tubuh. Lapat-lapat kudengar 2 lelaki yang berbicara dalam bahasa asing. Mungkin Hindi atau Bangla. Hidungku…!!? Ada cairan yang menetes perlahan dari hidungku. Kucoba mengingat-ingat, apakah karena dinginnya lantai [...]
PULANG (cerpen)
Diposkan dalam Dongeng Buruh Migran pada Mei 13, 2007 | 3 Komentar »
PULANG
lawang Bagja
Jalan panjang untuk meraih impian aku lalui dengan susah payah. Lima tahun mengundi nasib menjadi TKW ke Timur Tengah memang sebuah waktu yang teramat panjang dan melelahkan. Aku masih ingat ketika pertama kali datang di kota Abu Dhabi. Ibu kota dari negara Uni Emirat Arab. Kota yang dihuni berjuta anak manusia dari lebih 30 suku anak bangsa. Kota dimana aku hampir dibawa [...]
WANITA PELARIAN
Diposkan dalam Dongeng Buruh Migran pada Mei 4, 2007 | 3 Komentar »
Cerpen
WANITA PELARIAN
Matahari seperti berada sepenggalah di atas kepala. Aku masih berdiri menunggu seseorang yang baik hati menawarkan sekedar tumpangan. Terkadang duduk bersandar pada pohon kurma yang sudah mulai berbuah. Pohon kurma memang hanya berbuah satu tahun sekali. Itupun hanya di musim panas saja. Kulit kakiku mulai merah terkelupas.