bergesekan bak biola
mendendangkan syair kerinduan
Kusodorkan secangkir sulaymani
ishrab..!..Minumlah!
Wahai teman bincangku malam ini
pada pepasir yang masih ragu
untuk menjawab
cangkir dan cerek alumunium bertemu
“ting..!’
“Untuk angin malam ini!” Aku berseru
Angin pun tersenyum
Ia selembut malam kali ini
tak ada teriakan yang mengagetkan pepasir
atau hardikan yang membuat butiran sanddune pontang panting
Kunyalakan shisha
asap mengepul..
Sulaymani dan shisha
Berkawan dengan pepasir dan angin
tapi..
masih saja terasa perih
akan bait-bait puisi yang tersisa
dari Qais pada Layla

