Pagi ini kembali tenang. Setelah malam meredakan kemarahan badai pasir yang menerjang kota kecil ini. Semua tampak normal kembali. Tinggal debu-debu yang tersisa di pelataran koridor, pinggiran jalan dan setiap ceruk permukaan.
Pagi ini, seperti memulai siklus tahunan menjelang Maret. Semua tampak riang. Burung-burung yang hinggap di setiap pohon ramai bercit-cit cuit. Saya mengamati dari tahun ke tahun fenomena yang terjadi di tepian teluk Persia.
Minggu kemarin ketika berjalan menyusuri deretan pohon-pohon kurma. Sulur yang akan menjadi bakal buah kurma sudah mulai tampak. Kurma memang hanya berbuah di musim panas saja. nanti puncak panen pohon kurma memang antara bulan Juli sampai Agustus.
Sementara bulan Desember hingga akhir Februari, burung camar dan merpati hadir di tepian teluk Persia. Mereka terbang rendah. Pada bulan-bulan ini pula kabut sering turun. Udara malam sudah tidak mampu lagi menahan uap air akhirnya berkondensasi. kabut yang terjadi tidak kalah tebalnya dengan kabut-kabut yang sering turun di jalur Puncak. Pemandangan yang sering saya abadikan di halaman hati adalah saat kabut turun rendah. Matahari pagi memaksa masuk menerobos kepekatannya. Pada saat itu camar-camar berlarian riang. Sesekali terbang rendah dan menghentikan kepakan sayapnya.
Bulan Maret, udara di tepian teluk Persia seperti di kota-kota khatulistiwa. Udara pagi dan angin lembutnya menyapa ramah. Di bulan Desember dan Januari pagi begitu menggigit. Humidity sangat rendah. Ini membawa masalah bagi kulit saya yang retak dan pecah. Hal yang sebaliknya terjadi di bulan Agustus dan September. Humidity sangat tinggi. Air yang menguap dari sepanjang teluk ketika matahari terasa dekat seperti kembali menumpahkannya di jendela dan kulit-kulit penghuninya. Basah! bukan oleh keringat tapi humid!.
Anyway..semua memang datang silih berganti seperti malam dan siang. Kita hanya bisa bersyukur mendapatkan kehidupan sambil menunggu menghabiskan masa habis. Bukankah yang fana adalah milik makhluk? sementara kekekalan hanya milikNYA?
