Kangen dengan kakak di Bandung. Suaranya masih seperti dulu, terbata-bata. Hanya mampu mengucapkan beberapa kata saja. Teralhir dengan kondisi debil. Itu yang membuatnya istimewa di hati saya.
“Umi titip..jaga kakakmu!”. Pesan emak sebelum wafat kepadaku.
Saat ini kami terpisah ribuan kilometer. Apa yang bisa aku lakukan? sekedar sedikit memenuhi kebutuhannya.
“Mau dong!” katanya di ujung telepon.
“noan? (apa) A”
Lalu ia menyebutkan sederet barang-barang.
“Acuk!” terus “Clana!” terus lagi..”sendal!”.
Setiap saya telepon tema komunikasi kami tidak berubah dengannya. Dimulai dengan kata ‘mau dong!”..
Saya tersenyum mendengar kakak saya mengatakan ini. emosinya memang jauh dari usianya. Pernah disekolahkan tapi kemudian berhenti. Walhasil beliau satu dari jutaan anak bangsa yang buta huruf. Keterbelakangan mental terjadi sedari bayi.
Saya selalu berdoa diberia rizki dan umur panjang. Saya sering khawatir jika saya dan saudara-saudaranya yang lain keburu ciao dari dunia..lantas siapa yang akan menjaganya? ..Mungkin ini kekhawatiran yang dialami orang tua saya sebelum wafat. Kami harus bahu membahu menjaganya..sampai ajal memisahkan kami..dan kemudian insya Allah mempertemukan kami kembali di Jannah NYa..di surganya yang indah ..
tak ada kekhawatiran dan kesusahan..selamanya.
