Butt Sweet House selalu ramai dikunjungi para buruh migran dari Sub kontinen. Toko kue khas Asia tengah yang umumnya disukai oleh warga Pakistan, Patan,India, Bangladesh dan sekitarnya ini sudah menjadi legenda semenjak kota Abu Dhabi berdiri. Tiga tahun setelah Uni Emirat Arab resmi menjadi negara syeikhdom dengan 7 negara bagian, toko “Butt Sweet House” atau dalam bahasa arabnya ‘Mahal Butt Lithawieeyat” ini langsung buka lapak.
“Butt” disini jangan diartikan ke dalam bahasa Inggris karena akan bermakna ‘maaf-kurang sopan untuk ditulis’. Apalagi ‘butt’ dalam mitos timur tengah sesuatu yang sangat tabu dan aib. Gambarannya sama dengan orang Indonesia yang memandang ‘kepala’ sebagai simbol kehormatan dan sangat terlarang untuk disentuh, ‘disuntrungin’, apalagi ‘dikeplak’ atau diputar-putar tanpa seizin si ‘empu kepala’. Hanya tukang cukur yang amat sangat berwibawa memuta-mutar kepala yang sangat disakralkan manusia Indonesia. Maka sungguh tidak ada pekerjaan yang paling bermartabat dan berkuasa di Indonesia selain tukang cukur.
Antara “Butt” dan Kepala
Tradisi arab di timur tengah memandang berbeda bagaimana menghargai dan menghormati seseorang. Di sini ‘kepala’ tidak memiliki simbol apapun kecuali tempat quthra atau kafiyeh diletakkan. Selebihnya tetap dilarang ‘mengeplak’ kepala sembarangan karena alasannya sakit. Lain halnya jika berbicara soal (maaf) ‘butt’. Sekallipun diusap, dicolek atu ditepuk sayang urusannya sangat gawat. Mereka akan marah besar. Mata melotot, nada suara tinggi penuh ancaman. “aib!..ma’nu’!’, sesuatu yang memalukan dan terlarang dan sangat merendahkan harga diri.
Tidak ada kompensasi , misalnya jika di Indonesia kita ‘mengeplak’ kepala orang kemudian orang tersebut balas ‘mengeplak’. Di sini tidak berlaku jika kita mencolek ‘butt’ orang kemudian dikompensasi dengan dicolek kembali, tidak!. Jika ‘Butt” sesuatu yang tabu dan tidak disukai tapi hal tersebut tidak dengan toko manisan Butt Sweet House ini. Semenjak ber diri tahun 1974 tidak ada satu pun yang meminta nama toko kue khas sub kontinen ini diganti. Selama syeikh penguasa negeri tidak mengeluarkan dekrit, menutup atau melarang maka pemakaian nama Butt Sweet House akan tetap langgeng hingga kiamat. Kelak, dalam catatan Tuhan salah stau inventarisir yang hancur saat Armageddon nanti adalah Butt Sweet House.
Butt Sweet House pertama kali didirikan oleh dua orang bersaudara, Mohamed Syed Butt dan Mohammed azam Butt. Keduanya berasal dari Wazirabad, Pakistan. Merintis usaha di kota Abu Dhabi yang kemudian perlahan berubah menjadi kota besar nan asri dengan julukan “Taman Bunga Teluk Persia”. Manisan serta kue buatan kedua saudara ini sudah terkenal ke seantero 7 negara bagian emirat di salah satu negara di kawasan teluk ini. Para buruh migran yang umumnya berasal dari sub kontinen satu persatu berdatangan ke jalan Electra Street hanya sekedar menumpahkan kerinduan mereka pada kampung halaman dan ini hanya bisa diobati dengan mencicipi kue manisan buat Butt Brothers. Kerinduan para buruh migrant pada manisan serta kue buatan Butt brothers ini kurang lebih sama dengan kerinduan orang Indonesia akan Indomie rasa mie goreng pedas. Sejauh apapun bumi dipijak, Indomie mie goreng pedas begitu membuat hangat dan penentram jiwa. Maka dari mulut ke mulut mereka bercerita tentang legit dan maknyuss nya kue serta manisannya.
“Bohot ta chai!” atau “Acha!” atau “mmmmuuuacch.., miyya..miyya!” sambil kedua jari jempol dan telunjuk dipertemukan dan diletakkan didepan bibir dan dilepaskan ketika suara ‘muaach!’ berakhir. Ini sebuah ekspresi betapa kue manisan ‘Butt Brothers” sungguh nikmat. Lambat laun karena seringnya para buruh migran berdatangan ke “Butt Sweet House” maka wilayah electra street menjadi ramai dikunjungi. Satu persatu toko-toko khas sub kontinen mulai berdiri. Dimulai dari toko yang menjual pakaian sari, kemudian diikuti toko disebelahnya, diikuti toko di sebrangnya, diikuti toko diujung blok, terus dan terus. Perlahan berdiri juga Hyderabad chicken mandi (wartegnya sub kontinen), kemudian diikuti ‘Ibrahimi math’am’ (semacam restaurant. Tidak lama kemudian berdiri lagi ‘Mumbay Chay party” dan berlanjut ke penjaja kacang rebus dan goreng yang menawarkan kepada tiap migrant yang berkumpul di sekitar Electra street. Saat kapitaliser melihat ramainya tempat ini dan sangat strategis karena tidak dari gedung bersejarah, yaitu Qasr el Hosn, atau Istana kebaikan yang menjadi awal pemerintahan negeri para syeikh ini. Maka hadirlah hotel-hotel mewah serta restaurant ala western, mediteranian, Asian di sekitar electra Street. Tentu yang paling berjasa adalah “Butt Sweet House” yang ‘gula’gula’nya menarik para migrant untuk mengunjungi tempat ini. Cocok seperti pepatah lama yang berujar “Ada gula-ada semut, ada ‘Butt Sweet House’ – ada banyak buruh migrant”.
