Angin dari utara mengubah dengan cepat atmosfir tepian teluk Persia. Jika di bulan Agustus, Rub al Khali/ empty quarter mengepul seperti amarah yang muncrat sampai ke ubun-ubun maka memasuki awal Desember dan beberapa bulan ke depan berubah seperti pengantin baru yang ditinggal sendiri kesepian, dingin. Kami mungkin manusia-manusia yang sudah terlanjur nekat menjalani hidup yang katanya singkat ini. Betapa tidak, tinggal di kota kecil bak miniatur kota tuan raja di cerita 1001 malam yang lokasinya di depan membentang teluk Persia, sementara di belakang lahan kosong menghampar kurang lebih 500 ribu kilometer persegi yang dikenal dengan nama Rub al Khali atau zona empty quarter.
Lahan kosong yang berisikan pasir berton-ton kubik dan hanya di huni segelintir makhluk asing sebangsa ‘aqrab (scorpionnya gurun), rattle, dan putra mahkota padang pasir, tidak lain dan tidak bukan unta. Selebihnya sekelompok kecil manusia, mereka memiliki trah keturunan sampai ke Ismail bin Ibrahim bin Syam bin Nuh dan selalu setia menapak tilas jejak para leluhur mereka dan menjaga keaslian tradisi serta keyakinan yang sampai hari ini ikut ikut terancam punah digilas zaman, mereka adalah bedu atau bedouin.
Bedu atau Bedouin adalah putra-putri keturunan Syam bin Nuh yang terbagi dalam dua kelompok besar yaitu Kahtan dan Ibrahim. Kahtan melahirkan tribal bedu yang mendiami negeri Yaman. Sementara trah Ibrahim menyebar ke wilayah utara seperti Jordan, Sinai sampai afrika utara. Ibrahim sendiri meretas perjalanan ke bumi Hijaz dan membangun rumah Allah bersama putranya Ismail. Pada masa itulah konon unta berpunduk dua mulai dikenal di dataran Hijaz karena umumnya unta di kawasan ini hanya memiliki punduk satu (one humped). Unta dan bedu seperti sepasang sahabat yang sudah terikat perjanjian untuk meniti hidup bersama. Jika ada unta maka ada bedu, begitu pun sebaliknya.
Kami bukan bedu apalagi memiliki hubungan darah atau kekerabatan dengan mereka. Kami adalah manusia yang ‘tersesat’ seperti kerbau gunung yang main di pinggiran pantai. Dari daerah hijau royo-royo tinggal di wilayah daratan coklat pudar. Udara dingin mulai merambat ke dinding-dinding kamar dan seluruh ruangan. Tak perlu AC seperti di musim panas yang dinyalakan terus-menerus 24 jam. Justru saat ini kami mencari kehangatan, sembunyi di balik selimut tebal yang baru di cuci setelah musim dingin usai. Dinginnya udara memaksa tabung merkuri mentok ke angka dibawah 10 derajat celcius. Mungkin tahun-tahun ke depan skala itu akan turun seiring semakin kacaunya lingkungan kita. Tak ada yang perlu dilakukan memang karena katanya dunia sudah meminta resign dari peredarannya , begitu si pecundang membatin.
Desember awal bagi emiraty adalah hari-hari istimewa. Konon seorang bedu dibantu penjajah ‘baik hati’ namun culas, the great britain mendeklarasikan terbebas dari pengaruh dua kekuasaan besar, kerajaan Hijaz dan kasultanan oman. Berbagi kawasan kosong rub al khali yang penuh misteri. Misteri yang membuat rakyat miskin di negeri berkembang lintang pukang karena dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari dan harganya tidak mau turun-turun, yaitu bensin dan minyak tanah. Misteri rub al khali seperti misteri hilangnya sebuah peradaban yang tenggelam ke dasar bumi. Mungkin ada kobakan besar di dalam sana yang menyimpan harta karunnya para ali baba.
Tanggal 2 Desember kemarin, para keturunan bedu berpesta di pinggiran corniche. Kawasan elit memanjang di pinggir pantai tempat dulu mencari mutiara ini memang indah. Di depannya Lulu Island bersolek. Konon kawasan itu untuk para keturunan babi dan monyet yng doyan bertelanjang bulat di sepanjang pantai. Sayang, saat pesta malam 3 Desember buruhmigren, seorang gembel dari jawadwipa belum sempat menyaksikan ke sana. Maklum, pekerjaan shift yang bergantian siang dan malam sudah menjadikan kami seperti bagian dari mesin extruder yang hanya berhenti saat trip saja. Namun konon pula, pesta di depan corniche diramaikan dengan pesta kembang api, dari bisik-bisik surat kabar sih terbesar sedunia. Sekali lagi terbesar sedunia!. Selama kurang lebih 45 menit dirham-dirham tersebut dibakar menjadi cahaya-cahaya terang warna-warni gemerlapan. Menghanyutkan para ribuan pasang mata. Tuan-tuan itu seolah berteriak pongah, lihatlah dari kerja keras kalian cahaya kembang api dengan aneka bentuk kami persembahkan, dari keringat para kuli kasar bangunan, dari para pencari kehidupan hanya untuk sekedar makan. Kami akan terus tebarkan mimpi dan dirham ini begitu indah bukan?!.
Abu dhabi kota yang semula tampak teratur menjadi padat merayap. Para pemuda dan pemudinya bersuka cita merayakan kebahagiaan hari pembebasan. Kebut-kebutan kendaraan mewah aneka merek sudah lumrah. Apakah ada yang perlu dibanggakan? tidak ada penjajahan apalagi pertumpahan darah namun di masa awal berdirinya negara ini ketegangan tetap ada. Tegang hanya karena berebut lahan kosong yang bernama, rub al khali. Dataran sepi dan kosong seolah bosan dengan hiruk pikuk manusia yang bebal dan selalu berulang membuat kerusakan dan berbuat kesombongan. Dari tidak ada sampai kemudian mampu membangun gedung-gedung pencakar langit setelah itu lupa bagaimana sepatutnya berperilaku.
Dari tepian Rub al Khali, udara dingin kembali menyapa. Dan malam kembali hitam pekat. Sebuah pesan terakhir menggantung di langit-langit bumi. Konjugasi bulan Venus, yupter dan bulan membentuk senyuman. Entah senyuman tanda kebahagiaan atau senyuman perpisahan. Tak ada yang tahu. Dari tepian rub al khali, kututup tirai jendela. Menyapa bulan dan gemintang, selamat malam. Semoga kita selamat sampai ‘tujuan’. Di akhir zaman, di tepian rub al khali, aku semakin waswas dengan jalannya hidup. Allah..tsabbit qalbi ‘al diinik..!(tetapkan aku dalam agama-Mu).
Salam dari tepian teluk Persia, Rub al khali.
buruhmigren