Semalam bersama beberapa rekan di Ruwais, kami mendapatkan undangan untuk menghadiri acara peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia di hotel Intercontinental Abu Dhabi. Saya tidak tahu kalau acara ini sekaligus sebagai media perkenalan dubes baru kita untuk PEA (persatuan Emirat Arab), Pak Wahid Supriyadi. Pria atau lebih tepatnya lelaki asal Kebumen yang diberi kehormatan untukmenjadi perwakilan negara besar zambrut khatulistiwa, Indonesia. Seorang pujangga memilah makna pria dan lelaki dalam sebuah kategori bahwa pria lebih lembut lebih tepatnya lemah sementara lelaki lebih jantan dan ‘dibanting tahan’.
Sekilas Tentang Pak Wahid dan Kiprahnya
Duta besar Indonesia yang baru ini sebelumnya bertugas di Konjen Melbourne, Australia. Beliau meninggaalkan jejak yang mengharumkan nama bangsa dengan membangun kanal bagi seni gamelan sehingga lewat usahanya inilah terbentuk 40 grup gamelan’ers yang semua pemainnya adalah warga Australia. Diharapkan dari kanal ini mengalir jauh sampai ke laut rasa kecurigaan bangsa Australia terhadap Indonesia yang dalam doktrin keamanannya menganggap Indonesia adalah ‘musuh’ yang harus diwaspadai. Kesuksesan lainnya adalah Festival Indonesia yang digelar (setiap) bulan September yang mengundang daya tarik 97 ribu pengunjung. Semua menjadikan Australia khususnya warga Melbourne begitu dekat dengan Indonesia. Apalagi kota ini termasuk kota penting di Australia sebagai kota pendidikan, tempat mukimnya para akademisi.
Pak Wahid memang dikenal sebagai ‘down to earth’ ambasador. Pendekatannya kepada warga Indonesia di perantauan begitu merakyat. Konsep ‘People to People’ diplomacy yang diajarkan Hasan Wirayudha menempatkan setiap warga dan wakil pemeritah setara. Mengutip dari Forum, Paradigma feodal para diplomat senior pada era orde baru memang menjadikan ‘gap vertikal’ rakyat dan wakil pemerintah di perantauan. Seperti halnya sewaktu menjabat konjen di melbourne, beliau tidak menunggu disowani. Tidak lama setelah bertugas di Abu Dhabi beliau langsung ‘merapat’ kepada masyarakat. Beberapa bulan lalu beliau sengaja datang ke Ruwais (250 km dari Abu Dhabi) untuk bermain badminton bersama para warga Indonesia. Tentunya misi utama adalah sosialisasi PPLN dan silturahim dengan para warga Indonesia dalam rangka memperkenalkan duta besar yang baru bertugas dan sekaligus memberikan donasi bagi komunitas Indonesia di Ruwais.
“Safety Shoes” Behind the Scene
Undangan untuk menghadiri ceremonial di atas sudah diterima jauh-jauh hari. Saya sempat ragu bisa atau tidak menghadiri acara di seremonial tersebut. Masalahnya kebetulan jadual masuk kerja, sementara jatah cuti sudah habis. Mendekati ke hari H, konfirmasi untuk hadir akhirnya disampaikan. Rencananya sepulng kerja pukul 16:30 kami meluncur ke Abu Dhabi. Saya harus minta izin dahulu untuk pulang lebih awal. Bersama Pak Heri, Pak Ade dan Pak Syaiful lepas pukul 16:45 akhirnya meluncur dari Ruwais.
Berangkat dari tempat kerja masih menggunakan baju ‘fire retardant’ abu-abu. Saya cek titipan salin ternyata ada yang kurang. Saya lupa menyampaikan ke ajudan untuk membawakan juga sepatu. Di dalam mobil saya lihat ke bawah. Sepatu safety masih saya kenakan. Tidak ada waktu lagi untuk balik ke Ruwais sekedar mengambil sepasang sepatu. Show must go on. Saya sempat berharap acarany tidak terlalu formal dan seperti acara-acara sebelumnya diramaikan warga Indonesia. Di Tarif, kami berhenti untuk solat Maghrib-jama Isya sekaligus salin. Beres semua ketika akan berangkat, pak Heri melihat ada yang aneh ke bawah.
………
Dialognya saya sensor. Isinya bukan konsumsi publik. Namun isinya kira-kira mempertawakan saya yang msih pakai safety shoes. Bukan safety shoesnya yang tidak safe tapi safety shoesnya sudah babak belur nabrak batu, pasir, alat-alat berat di plant. Jadilah safety shoes ini seperti veteran perang yang penuh cabikan musuh. Alamaaaakkk…! sampai di lokasi ternyata acaranya formal. banyak tamu undangan duta besar negara sahabat. Masuk ke balairung acar disambut deretan anak-anaak Indonesia dengan aneka pakaian adat. Kamera video dan photo di sana-sini. Di pintu masuk pk Dubes bersama ibu dan staff berdiri berjejer menyambut kehadiran para undangan. Dalam hati “kok jadi gini..?!, ane balik lagi lah nunggu di mobil”. Gara-gara safety shoes harus rela jalan paling belakang karena pak heri melarang jalan di depan. “Apa kata dunia..?!”. “Moga-moga gak yang merhatiin ke bawah atau meriksain sepatu para pengunjung”, gitu batin buruhmigren. Anyway, acara berjalan lancar tanpa ada yang saling berbisik soal sepatu kaca eh..sepatu safety. Hanya Pak Heri dan kawan-kawan lainnya yang mesam-mesem…
Kenapa tidak pesan sepatu dari cibaduyut sajah ?
Pasti kuat, apalagi yang terbuat dari kulit oray dia gak bakalan rusak, ganti kulit baru secara otomatis