Sudah sepekan lebih atmosfir negeri para migran menjadi buram. Buram karena debu yang menelenggelamkan semua yang ada. Tak mungkin berlama-lama berdiri di udara terbuka karena bisa seret rasanya tenggorokan . Menurut berita yang dilansir dari prakiraan cuaca setempat, debu ini menyelimuti sebagian laut arabia juga termasuk negara tetangga diantaranya Kuwait, Qatar, Bahrain, juga sebagian wilayah Saudi. Saking tebalnya, debu ini pun juga mampu memaksa sinar matahari ikut buram karenanya. Wajar jika suhu udara sempat anjlok di kisaran 40-43 derajat celcius. Di beberapa wilayah malah sempat ke 37 der. celcius. Biasanya pada saat summer seperti ini mercury menyentuh 47-49 derajat celcius.
Dari mana datangnya debu ini? Mengapa betah menggantung di langit-langit udara kita hingga seminggu lebih? Seorang buruh migrant berseloroh “mungkin terlalu banyak project kali.. sampai harus angkut-angkut pasir ke sana dimari?”. Debu kali ini tak ada hubungannya dengan galian pasir ataupun ribuan project yang mungkin hampir bersamaan sedang digarap di gulf ini. Ah..ada sesuatu yang aneh dari debu-debu ini. Dan ternyata..
Setelah berfikir, mungkin debu ini cara Allah mengingatkan warga dunia seantero gulf tentang nasib saudara tetangganya yang saat ini sedang dilingkupi langit hitam. Penjajahan atas nama demokrasi demi merubah sebuah rezim otoriter dengan cara licik yang berbuah kekacauan sampai hari ini. Seperti kerja iblis yang menebar teror dan kesengsaraan. Ranjau, bom mobil, sniper, hingga perang terbuka sesama anak manusia yang saat ini sedang terjadi di negeri 1001 malam.
Ya!, debu yang menyelimuti dan mulai menyesakkan semua rongga paru para syaikh, raja, yang mulia dan entah gelar kebangsawanan apalagi yang ada memang berasal dari Irak. Bersama jutaan para migran ikut merasakan debu yang betapa paru mulai terasa terhimpit jadinya. Mungkin seperti itu tentunya nasib saudara-saudara kita di sana. Negeri 1001 malam yang dulu pernah berdiri sebuah peradaban tinggi yang melintasi beberapa zaman dimulai dari era mesopotamia hingga kekhalifahan Harun Al Rasyid yang melegenda dengan dongeng aladdinnya.
Bukan hanya badai kemanusiaan yang menghempas Irak, badai kali ini menghantarkan debu ke negara sekitar. Seperti menghaturkan ’salam kangen’ bagi para saudara mereka. Seolah menyampaikan pesan bahwa mereka, saudara-saudara kita di Irak masih terhimpit parunya karena masih ada Iblis yang betah bercokol di sana. Iblis yang sedang menari di atas jeritan dan tangis pertikaian suni dan syiah, yang diam-diam menjarah emas hitam bergallon-gallon banyaknya, yang mengelupasi helai demi helai kehormatan perempuannya, yang mewariskan dendam bagi generasi berikutnya, itupun jika masih tersisa!. Masa depan mereka memang sedang dirampok! dan saya, anda, juga kita semua serta tak lupa para tuan besar para majikan yang harta dan senjatanya menumpuk di gudang-gudangnya qorun masih tahan berdiam diri.
Debu bukan semata kangen menyambangi para tuan dan syeikh serta jutaan migran di gulf. Debu bukan seperti kita yang hilir mudik sesuka hati melangkah. Debu adalah piranti alam yang bekerja atas kehendak Sang Khalik. Hanya seringkali kita tak mampu berpikir dari mana dan pesan apa yang ingin disampaikan. Debu yang menggantung awet di langit-langit gulf yang kesehariannya angin selalu bertiup kencang. Saat ini, tak ada angin yang mampu mengusir. Bahkan weatherman hanya mampu berharap beberapa hari ke depan angin dari tenggara segera datang dan mengusir semua debu yang ada. Jika tidak? Kuasa Sang Pencipta yang mengatur segalanya. Sama seperti halnya nasib warga Irak yang menggantung dan hanya berharap dalam diam.
Semoga doa kita saling terkait wahai para penghuni negeri 1001 malam. Jika paru mu sudah begitu menyempit karena Iblis masih bercokol di sana. Lewat debu yang Allah kirimkan aku pun sedikit bisa mendapat gambaran betapa sulitnya bernapas saat udara yang tidak ada alasan untuk tidak menghirupnya di aduk-aduk oleh sesuatu yang asing. Maka dengan doa pula kita berharap langit dan udara kita jernih dan segar kembali. amien..