Setelah sepekan pengumuman kenaikan harga BBM diterapkan yang berbuntut kita harus menghitung ulang kembali budget anggaran keseharian kita sambil garuk-garuk kepala. Bagi mereka yang penghasilannya di atas range batas aman persoalan kenikan BBM mungkin tidak begitu menghentak. Beda dengan warga dunia yang penghasilannya baru sebatas UMR atau gajinya sudah 2 atau 3 kali UMR namun karena terjebak pemakaian kartu kredit yang berlebihan maka setiap bulannya menjadi kisah lagu Rhoma “Gali Lobang Tutup Lobang”. Orang kene (Banten) bilang” Paleng ndas kite!” (pusing kepala saya).
Sekedar ingin bertukar cerita. Kenaikan harga minyak dunia yang konon katanya ulah autarkic alias konsumsi berlebihan dari negara-negara konsumen entah ditimbun atau sekedar antisipasi naiknya lagi harga minyak yang menurut beberapa pakar kenaikannya akan mengikuti deret Fibonacci. Untuk merefresh, masih ingat deret Fibonacci? Ituloh yang angka berikutnya hasil penjumlahan dari angka kedua di depannya. 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89,144, 233, 377, 610, 987, dst..Konon angka inilah yang menjadi patokan para pialang dunia dalam memprediksi trend kenaikan saham, harga minyak juga harga emas. Jika kita perhatikan trend harga minyak dalam 40 tahun terakhir maka akan terlihat jelas grafiknya. Mirip dengan deret Fibonacci. Tak terbayangkan kalau nnti hrga minyak mentah dunia bisa sampai 200 us dollar!. Jadi kesimpulannya, masih ada cerita bersambung tentang naiknya harga BBM.
Siap bilang tinggal di negeri kaya minyak tidak terkena dampak BBM? Di sini lebih dahsyat!. Maksud saya di UAE sini. Dimana hampir komoditi 9 bahan pokok semuanya impor! (termasuk indomie, hehe). Soal Indomie memang jadi trademark ciri khas warga dunia dari Indonesia yang tidak lepas mengkonsumsi. Mungkin ini satu-satunya produk yang bisa eksis di jaringan retail raksasa di seluruh dunia. Soal kenaikan harga 9 bahan pokok tadi sudah dirasakan beberap bulan yang lalu dan sekarang slowly but sure naik gunung terus. Misalnya saya coba ambil sampel; harga beras. Berapa harga beras yang biasa kita konsumsi? di Indonesia 6-8 ribu per kg? Di sini ukuran beras Thailand yang normal dikonsumsi oleh kita sudah 14-15 ribuan per kg! Dan jangan ditanya harga cabe merah, bawang putih, daun bawang, kol, apalagi harga jengkol dan pete! Ya!..terutama pete! perbijinya begitu sangat berharga. Belum lagi daun pisang! Tahukan daun pisang? iya! yang bisa dipakai buat bungkus lontong! he eh!..begitu sangat berharga disini!.
Tentu anda warga dunia belahan Indonesia akan mencibir, “ gaji lo kan gede bro!”, yaa…itulah! kenapa gajinya gede karena harga kebutuhan sehari-harinya juga tinggi. Balance..win-win!. belum ongkos yang harus ditanggung oleh kita adalah recovery saat kita memutuskan kembali pulang kmpung. Recovery yang saya maksud tidak selamanya kita kembali menjadi karyawan lagi. Minimal dapat posisi yang sama dan bekerja diperusahaan yang sama pula!.
So, dimanapun dan kapanpun selalu ada kelebihan dan kekurangan. Semua berubah dan kita harus bisa mengantisipasi perubahan, kata ustad favorite saya, aa Jimmy eh aa Gym. Bekerja di kantor saja sekarang tidak cukup. Kita mesti berusaha lebih keras. Sama dengan kami di sini. Ada yang merintis berjualan katering, ada juga jualan kue, dlsb. Dulu waktu di bekerja di salah satu industri petrokimia di Cilegon, saya juga nyambi tukang editing, edutainment toys, dll. Dan Kita semua adalah pemenang!. Saat pertama kali ‘bibit’ kita berhasil menembus planet ovarium diantara jutaan pesaing kita waktu di Rahim bunda, saat itulah sudah terbukti bahwa kita mampu melewati masa sulit. Sesulit apapun! jangan khawatir karena oksigen masih gratis dan kita bebas bernapas lega!. Tarik napas dalam-dalam, dan teriak” Aku Bisa..! Takbir!, Allahu Akbar!!”
HOWGH!