oleh: Kafilah cinta
Saya masih ingin berbagi cerita tentang perjalanan umroh (lewat darat menembus border) yang pertama dalam hidup saya. perjalanan ini adalah sebuah ‘keajaiban’ bagi saya. Ajaib karena 2 tahun dan tahun-tahun sebelumnya logika saya masih menghitung bahwa kesempatan berziarah ke Baitullah dan raudhah adalah sebuah mimpi atau angan-angan kosong. Gaji buruh yang saya terima setiap bulannya di salah satu pabrik di Cilegon, ditambah sambilan saya sebagai tukang edit dan juru shooting amatiran pernikahan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari setiap bulannya.
Tanggal 1 sampai 30 adalah life time kehidupan saya. Belanja dapur, bayar listrik, bayar pam, bayaran dan jajan sekolah anak (padahal masih TK), ongkos, dan masih banyak lagi kebutuhan lainnya yang setiap bulan begitu rakus melahap gaji yang saya terima tanpa sisa. Saya sendiri tidak bisa membayangkan waktu itu kalau tiba-tiba perusahaan mangkir menggaji saya satu bulan saja, wah! alangkah repotnya!. Realitas yang membentang dihadapan begitu terjal, keras, dan menyengat. Seberapa mampu diri kita memandang jauh ke depan adalah pertanyaan yang sering meneror hati kita kala hendak memejamkan mata di waktu hari sudah gelap.
Hanya Bermodalkan Doa
Hidup yang dilakoni dari waktu ke waktu menjadi bising dan asing. Semua ongkos hidup harus dibayar dengan mahal. Hal itu menjadikan hidup yang pendek ini seperti sebuah permainan yang menyisakan satu pilihan, yaitu; kita harus menang!. Kondisi seperti inilah yang membuat sudut pandang kita bergeser dalam memahami alam dunia. Asesoris dan segala yang berbau prestis adalah simbol kemenangan. Hati kita pun akhirnya menjadi tumpul, kering dan kusam. Semua sering berakibat pada kita menjadi tidak percaya lagi pada kekuatan doa, harapan, dan ‘mimpi’. Padahal untuk melanjutkan hidup dan memenangkannya bukan hanya berasal dari gemerlapnya hiasan materi atau segala tektek bengek asesoris yang menghiasi kehidupan kita tetapi juga kekuatan yang berasal dari dalam, dari hati!. hati kita adalah inti yang menggerakkan kemana arah kaki melangkah, apa yang mesti dipikirkan, diucapkan, dilakukan dlsb. Maka tidak ada pilihan lain untuk bisa melawan teror yang menggerogoti hati kita. Satu hal yang mampu menghadang teror cemas, khawatir, pesimis, dan takut adalah saat hati kita dekat dengan Sang Pencipta.
Nah, perjalanan darat menembus border menuju rumah Allah bagi saya adalah sebuah pelajaran yang Allah berikan kepada saya bahwa doa yang dipanjatkan akan didengar, disimpan, dan suatu hari akan diberikan. Jika tidak hari ini, maka esok, atau bisa saja lusa atau tentu nanti di akherat kelak. Tentu kita pernah merasakan kegalauan yang luar biasa saat doa yang kita panjatkan seperti meminta bintang jatuh dihadapan. Rasanya permintaan ini seperti mengada-ada atau mungkin kita yang sudah keblinger. Mengunjungi rumah Allah dan Raudhah sekalipun hanya diberikan kesempatan solat 2 rakaat di dalamnya sudah begitu sangat didambakan tetapi sayang (dulu) saya mengangap itu semua tidak mungkin (secara logika). Singkatnya seringkali logika kita mengejek harapan yang terpatri di dalam hati kita.
Sepanjang perjalanan 4000 km!, dari Ruwais ke Madinah kemudian ke Makkah dan balik lagi ke Ruwais menghanyutkan segala keraguan saya bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Seperti mengurai rahasia benag kusut kehidupan. Jawabannya: ”Kita hanya bermodal doa saja sebenarnya dalam hidup ini”. Dan doa yang paling kencang kumandangnya di ‘arasy tentu doa ayah-ibu, serta orang-orang yang ada di sekitar kita. Doa mereka akan mengalir deras seperti ’sayembara’ KDI yang saling dukung-mendukung dengan mengirimkan ribuan sms. Semakin banyak sms yang dikirim oleh ‘orang-orang dekat kita’ atau mereka yang bersimpati kepada kita maka semakin besar peluang kita.
Dibawah Kaki Multazam
Sekali lagi saya ingin menggaris bawahi bahwa kita hanya bermodal doa saja dalam hidup ini. Segala rentetan usaha dan hasil yang kita terima merupakan jawaban dari doa yang kita panjatkan. Doa yang kita sampaikan lewat desiran hati, 2/3 malam, di waktu dhuha, atau setiap saat adalah mata air yang mengairi sungai perjalanan hidup kita. Tentu membutuhkan mata air yang sangat melimpah agar getek yang kita tumpangi bisa terus meluncur sampai ke hilir. Di situlah rahasia seberapa kualitas dan kuantitasnya doa-doa yang kita panjatkan. Dan seperti yang saya tulis diatas, kita pun ternyata membutuhkan doa orang lain agar mata air sungai kehidupan kita semakin melimpah.
Di bawah multazam, puji dan syukur saya latunkan kehadirat Allah ‘azzawajalla. Saya memang lelaki yang hanya berbekal doa ibu saja dalam hidup ini. Dari doa ibu yang tamatan SR (sekolah rakdjat) yang doa-doanya tak pernah kering mengairi anak sungai kehidupan saya yang menjadikan getek (perahu bambu) ini sampai di bawah kaki Multazam. Semoga Allah membalas bagi kedua orang tua saya dengan membanjiri keduanya dengan ampunan serta kasih sayang-Nya di alam baqa sana. Semoga, ziarah ini bukan perjumpaan terakhir. Tetapi awal perjumpaan untuk merajut kehidupan baru untuk episode berikutnya. amien..