Dahulu saat di Indonesia rasanya kurang afdol jika belum baca shalawat di depan pembaringan abadinya Rasulullah. Mestinya itu menjadi puncak dari pengalaman para pencari yang setiap waktunya dihabiskan dengan membaca shalawat. Beberapa aliran thoriqoh dalam sufi ada yang menekankan zikir dengan shalawat tertentu sebagai bagian dari amalan sehari-hari. Shalawat bagi pengikut thoriqoh ini menjadi pembuka jalan menuju tingkatan yang mesti dilalui oleh para salik.
Bicara shalawat, saya yang besar di lingkungan NU diajari macam-macam shalawat oleh uwa (paman), nini (nenek), aki, kakak, dan masih banyak lagi. Shalawat dulu sering kami kumandangkan di waktu-waktu sebelum atau setelah azan. Tujuannya sambil menunggu iqamah atau waktu solat juga sekalian menunggu jama’ah agar mau memenuhi undangan ke mesjid. Diantara solawat yang populer yaitu sholawat nariyah. Ada lagam khusus jika dikumandangkan di mesjid. Yang pernah saya dengar, keutamaaan membaca sholawat sangat banyak terutama agar hati menjadi lembut. Memang semua zikir ditujukan bagi pelapalnya untuk memperbaiki ‘kontur’ dan ‘karakter’ hati.
Ceritanya saat di Raudhah, Masjid Nabawi dengan tumpukan orang yang berebut mendapatkan tempat sekedar untuk solat dan berzikir saya ada diantara kaki manusia yang berjejalan. Sepertinya semua ingin mendapatkan keutamaan tempat itu. Meskipun begitu, nikmat di Raudhah adalah karunia yang begitu berharga. Saya memanfaatkan dengan menghaturkan salam. Dari macam-macam shalawat yang pernah diajarkan waktu kecil saya putar kembali. Seperti seseorang yang hendak membuka jalur komunikasi dari sekian milyaran chanel yang terhubung ke Rasulullah.
Saya sadar, saya bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang manusia yang ingin diakui sebagai ummat Muhammad. Bukan seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, apalagi Ali Radhiallahuanhum wakarramallahuwajhah. Saya seonggok manusia yang sudah sangat merasa terhormat sudah diberi kesempatan duduk dan bershalawat di depan pembaringan abadi Muhammad. dari mulut yang penuh dusta, semoga shalawat yang saya haturkan berkenan ‘diterima’ dan ‘dijawab’ oleh Allah SWT.
Saya teringat nun di suatu masa, lewat corong toa dari masjid buyut yang sudah berusia tua seorang bocah ingusan melagamkan shalawat yang hampir dipastikan seperti suara gaduh yang mengganggu orang tidur. Jika rahmat-Mu turun karena kemuliaan nabi-Mu yang pada hari ini akhirnya aku diundang untuk menjenguk Nabi-Mu maka itu semua adalah bagian dari keluasan Rahmaat-Mu ya Allah.
Dari semua yng berkecamuk di alam pikiran dan batin saya hanya mendaptkan kesimpulan bahwa bershalawat di depan makam Nabi atau di tempat yang jauh di pinggiran gunung semua mempunyai tempat yang sama jika kita membacakannya penuh khusyu dan takzim. Seperti layaknya kita berhadapan dengan rasul yaang mulia di Raudhahnya.