Inflasi dan Biaya Hidup di Gulf
lawangbagja, disarikan dari kumpulan berita di gulfnews
Pasar ekonomi bebas memang sudah diterapkan di UAE sejak awal berdirinya negara ini pada tahun 1971. Roda ekonomi berjalan begitu cepat. Banyak imigran dari berbagai negara berdatangan meraup keuntungan dari pasar bebas ini. Terlebih sektor ekonomi ril terus berkembang pesat seiring makin terus beraneka ragamnya kebutuhan hidup para imigran. Meningkatnya kualitas serta tuntutan gaya hidup menjadi agenda keseharian. Seperti beli baju dan celana yang bermerk, sepatu keluaran teranyar, mobil mewah dengan tenaga ‘1000 kuda’, sampai pola makan dan menu pun mesti ada peningkatan.
“dahulu, waktu di Cilegon saya paling banter makan di warung padang Sederhana. Itu pun sudah kelas wah..sisanya ya, cukup di warteg saja”, seorang alumnus pekerja di salah satu perusahaan di Cilegon berseloroh.
Sepertinya teman saya ini memang merasakan betul berkah sebagai buruh migran di negeri yang kaya minyak. Ternyata gaji yang berlebih tidak menjadikan seseorang bisa menabung lebih banyak. Itu tergantung pada yang bersangkutan apakah hendak menikmati hidup dengan gaji besar yang diterima atau tetap menahan ‘gejolak’ keinginan untuk bisa hidup hemat dan terkontrol di tengah derasnya kenaikan harga akibat inflasi yang melanda gulf 2 tahun belakangan ini.
Inflasi & Pasar Ekonomi Bebas
Seperti sudah disinggung sebelumnya di awal tulisan, pasar ekonomi bebas memang menggerakkan pertumbuhan ekonomi di UAE. Dan sebagaimana dimaklumi yang berlaku adalah paham kapitalisme. Persaingan ekonomi tentu hanya menguntungkan ‘kelompok si berat’ saja seperti Kartel yang terus menggurita di gulf ini. Beberapa kartel seperti Carrefour memang tampak mendominasi. Mal-mal besar begitu pesatnya hadir dengan berbagai macam aneka produk yang serba ’import minded’. Semua menjadikan UAE sebagai surga belanja yang menggiurkan. Aneka produk bermerk yang mendunia begitu mudah didapatkan di sini. Beberapa memang ditawarkan dengan harga yang cukup miring. Akibatnya seperti memiliki daya magis tersendiri, manusia berjubel di mal-mal. Gaya hidup seperti ini lambat laun menjadi bumerang tersendiri bagi para imigran yang jauh-jauh bekerja semula untuk menabung dan menabung.
Dua tahun belakangan ini inflasi memang cukup menyentak denyut kehidupan. Krisis sosial yang tak kunjung henti melanda Irak, Libanon, Palestina, dan yang terakhir Iran memang menyulut harga minyak yang terus membara. Menurut analisis pasar diperkirakan akan menembus angka 3 digit menjadi 100 an dollar perbarrelnya di penghujung tahun 2007 ini. Di awal November saja harga minyak menyentuh 96 dollar perbarrel. Imbasnya harga-harga ikut meroket seiring beban produksi yang memang tinggi. Di sinilah mimpi buruk para imigran dimulai. Kartel memang bisa seenaknya saja memanfaatkan ini dengan mendesak pemerintah otorita UAE agar segera menaikan semua barang kebutuhan pokok. Di awal ramadhan saja sudah terjadi tekanan kepada pemerintah otoritasetempat. Seandainya Abu Dhabi Cooperation (semacam lembaga koperasi) tidak menolak dan meminta penundaan mungkin lonjakan harga sudah terjadi jauh-jauh hari kemarin.
Inflasi tahun ini memang diperkirakan akan menembus angka 10 persen untuk kawasan gulf terutama UAE dan Qatar. Dimana tahun kemarin inflasi memang mentok diangka 10 persen. Beberapa harga kebutuhan pokok perlahan mulai naik. Jika pemerintah otorita tidak segera mengantisipasi dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak dan dampak negatif. Para buruh migran dari kelas ‘paria’ seperti buruh bangunan, cleaning service, gardener, dll memang sudah berpekikan meminta segera dinaikan gaji. Di Dubai sendiri sempat memicu terjdinya bentrokan antara para buruh dan polisi. Yang berbuntut ancaman deportasi bagi mereka yang melakukan aksi semacam ini.
Kartel dan inflasi memang menjadi hantu tersendiri saat ini bagi para migran. Biaya hidup yang menjadi semakin tinggi akan membuat orang untuk menahan koceknya dari keperluan-keperluan yang tidak begitu urgent. Dan seperti efek domino, hal itu akan saling memberikan pengaruh pada sektor lainnya.
Menurut saya memang sepertinya jurang ekonomi antara kelas ‘paria’ atau para pekerja buruh kasar dengan para pekerja di industri serta pemerintahan sangat jauh sekali. Misalnya di Ruwais saja, para pekerja kebun diberi gaji antara sekitar 600 dirham. Dengan status bujangan dimana akomodasi berikut makan siang dan malam ditanggung. Mereka biasanya tinggal di kamp-kamp yang tersebar di sekeliling kota Ruwais. Dari gaji sebesar itu memang cukup sulit bertahan jika hidup seperti di Gulf ini. Dimana hampir semua produk mulai dari sandang, pangan dan papannya impor. Mereka pun tentu harus bisa mengirimkan uang bagi keluarga di negeri asalnya. Itulah sebabnya, banyak para buruh kasar ini ‘nyambi’ cari pekerjaan lain. Ada yang cuci mobil, bersihin flat, dll.
Jika para buruh kasar harus mengencangkan ikat pinggang, maka buruh ‘expat’ menikmati kenaikan gaji yang cukup lumayan. Ada penyesuaian dari beberapa tunjangan. Namun tetap saja hal itu tidak terasa sebagai suatu kelebihan karena gaya hidup yang berbeda. Saya membaca dari Gulf News bahwa para imigran yang kadung enjoy hidup di UAE dengan gaya hidup yang agak tinggi sudah mulai kedodoran saat ini akibat inflasi. Memang tidak mudah menjadi pribadi yang cerdas di saat-saat yang sulit.