Selamat datang dunia migran. Hatiku berkata demikian saat pertama kali mengijakkan kaki di bandara internasional Syeikh Zayed di AbuDhabi, UAE. Ya, inilah kali pertama aku menginjakkan kaki di luar negeri dan langsung bekerja sebagai tenaga expariat di sebuah perusahaan petrokimia, Borouge. Sebagai anak perusahaan ADNOC, Abudhabi National Oil Company. Borouge memproduksi polyethylene dengan teknologi Bimodal-Borealis. Terletak di kawasan industri Ruwais, ujung sebelah barat wilayah emirat. Jarak Abudhabi-Ruwais kurang lebih 250 km. Dapat ditempuh selama 2 jam karena memang kondisi jalan serta kendaraan memungkinkan untuk tancap gas terus.
Di Indonesia, pekerja expatriat begitu dimanja. Fasilitas dan gajinya lebih besar. Di sini, expatriat tidak begitu istimewa. Yang mendapat perlakuan istimewa justru warga lokal, emirati. Sekalipun mereka sedang magang tapi gaji yang diterima bisa lebih besar dari seorang engineer expatriat. Begitulah pemerintah mereka memperlakukan warganya. Standar yang diberikan memang tinggi. jelas ini memberikan kebanggaan bagi warga lokal. Sekalipun jumlah mereka sedikit dan masih cetek pengetahua serta pengalamannya mereka tetap dihargai.
Biarpun begitu, aku tetap memilih untuk bekerja di sini. Banyak pilihan yang memutuskan aku bekerja sebagai buruh migran. Diusiaku yang menginjak 30 tahun, aku perlu menambah ilmu dan pengalaman. Merasakan atmosfer yang berbeda dalam suasana multinasional. Pendewasaan dalam menghadapi hidup aku harapkan dari proses perjalanan ini. Ditambah kondisi keadaan perusahaan sebelumnya yang sudah alih kepemilikan 3 kali.
Sebenarnya aku menikmati bekerja di Kawasan industri Merak. Posisi sudah lumayan walaupun tidak terlalu tinggi. fasilitas sudah cukup, terutama kesehatan dan rumah. Aku dapat memiliki rumah yang sederhana diusia yang cukup muda. Jika lihat ke kanan dan kiri, banyak yang belum bisa memiliki rumah diusia yang menjelang tua. Mereka terus hidup berpindah sebagai penghuni kontrakan. Selain itu ada hal yag bisa aku lakukan selain bekerja, yaitu aku bisa aktif di aneka kegiatan. Sebagai volunteer rumah dunia untuk ngurusin soal film. Dari sini aku beranjak membuat komunitas film, Scene TEN (sinten=siapa). Lahir dari workshop film dokumenter kerja bareng Imaji (perusahaan kecil yang aku pegang) dengan Rumah dunia. Aku memang menggebu saat itu. Ingin menjadi film maker. Peralatan aku paksain untuk dibeli. Walhasil dari kegiatan sinematografi ini aku dapat penghasilan tambahan. Lumayan, gak usah ngerepotin isteri ambil jatah dari gaji untuk hobiku.
Di tengah perjalanan, aku sering mendapat pertanyaan dari diriku sendiri. Aku harus memilih untuk ke depan. Tidak bisa dinafikan, aku terlahir dari awal sebagai seorang analyst yang hidup di antara gelas ukur dan buret titrasi. Perusahaan tempat aku bekerja selalu merugi. Setiap hari yang dibicarakan harga bahan baku yang terus membumbung. Sudah doesnt make sense lagi untuk memproduksi bahan jadi. gimana mau untung analoginya jika singkong mentah lebih mahal dari kue yang dibuatnya. Ada ketakutan pabrik ini tutup beroperasi. trend pabrik bangkrut terjadi dimana-mana. Pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa. Posisi buruh sangat lemah. Mau diapakan pun tidak bisa berbuat apa-apa. Bagi kami, kehidupan harus terus berjalan. Anak-anak harus bisa sekolah dalam kondisi sesulit apapun. Pada saat bimbang mau menetukan arah hidup kemana, datang tawaran bekerja sebagai EXPATRIAT ini di UAE. Tak ada pilihan, aku langsung lahap!.
GAP PSIKOLOGIS
Terasa sekali gap psikologis hidup dan tinggal di sini. Komplek tempat tinggal memang disediakan senyaman mungkin. lengkap dengan klinik, bank, supermarket, pasar, sekolah serta recreation center. komplek ADNOC ini terletak tidak jauh dari kawasan industri. Terbagi dari dua, Old housing atau villa dan new housing-flat. Di kawasan villa, perumahan dibangun layaknya seperti perumahan di Indonesia pada umumnya. Sedangkan di new housing, perumahan dibangun dalam bentuk flat atau apartemen. Ukuran rumahnya memang besar-besar lengkap dengan AC, kamar mandi serta dapur yang sekelas hotel. Aku sendiri mendapat flat dengan 3 kamar tidur besar, 1 kamar pembantu, 3 kamar mandi, ruang baca, ruang tamu, dan ruang santai dan balkon yang menghadap ke barat. Jika ada kerusakan, ada layanan perbaikan yang bisa datang setiap saat. Di sini air dan listrik gratis. Setiap rumah mendapat jatah 20 ribu watt. Cukup untuk bikin studio musik.
Gap psikologis yang aku rasakan yaitu berbedanya sistem masyarakat dan cara bersosialisasi. Sebisa mungkin kita memang harus mengkondisikan flat senyaman mungkin. Sistem masyarakatnya memang tertutup. berbeda dengan di Indonesia yang guyub dan terbuka. Keluar jika ada perlu saja. Selebihnya kita menikmati di dalam flat saja. menyibukan diri mengurus anak dan keluarga serta menulis dan membaca. Aku ingin anak-anaku tumbuh dengan normal. Saat nanti suatu hari mereka kembali ke tanah air, mereka bisa hidup tanpa merasa asing di negeri sendiri. Di negeri sendiri semua fasilitas terbatas, tapi itu tetap harus dinikmati dan disyukuri.
Setiap jengkal tanah di dunia ini adalah media pembelajaran dalam hidup. bahwa hidup adalah journal untuk terus dapat bertahan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini kecuali nanti kelak di alam baqa. Sebagai manusia memang kita harus selalu bersyukur. Diberi perasaan yang tidak terus-terusan senang. Juga tidak terus-terusan sedih. Ada kecewa, sedih, senang, menangis, tertawa. Pokoknya semua begitu mengharu biru. Sampai-sampai setanpun merasa iri dan menaruh dendam sampai mati. Sedangkan kita bukan setan, tidak perlu menaruh dendam dan iri sampai mati. Kesempurnaan hidup memang diberikan untuk kita sebagai manusia. Saat ini saya menjalani episode asing dan aneh. Biarlah saya menikmatinya bersama keluarga dalam tawa dan tangis. Tawa dalam arti kita bisa menikmati hidup yang dulu sepertinya tidak mungkin. Tangis dalam arti bahwa hidup di sinipun tetap saja ada tantangan. Alam yang berbeda, status masyarakat, dan lain sebagainya. Belum lagi kami harus menanggung rindu kepada sanak saudara, handaitaulan serta teman dan para sahabat. Tapi biarkan semua panas dan membara. Aku biarkan diriku terbakar dalam rindu.
Great blog…word combination, good layout, nice to read…honestly this blog is motivating me to improve my blog.
MHz
*MemoryNyariKomputerBuatFilmEditingDiMg2*
:^)
Pak Jaya, apakabar, kl liat tulisan2 pak Jaya di blog ini seakan… ingin menunggu bab selanjutnya… alur cerita nya enak dibaca… pak ada FS ngga? ini FS sy http://www.friendster.com/arbud354
Arief Budiarto
(yang sering nyewa infocus…)
O ya, pak Jaya.. mas Budi juga dah pindah ke jazirah arab juga… kl ngga salah di Saudi Arabia
tulisannya bagus bgt buat nambah pengetahuan saya selama nunggu suami jemput. saya tunggu lg tulisan2nya pak…
assalamu,alaikum.. salam kenal
semoga bapak sukses ! dan slalu di beri kesabaran
salam