Dari lantai 30 gedung Etisalat aku bisa memandang leluasa kota Abu Dhabi. Si kota ajaib yang mengudang decak kagum para turis manca negara yang berkunjung. Kota yang dijuluki “taman bunga teluk persia” ini memang bukan sekedar isapan jempol. Siapapun yang pertama kali berkunjung ke Abu Dhabi dan berkeliling kota akan dibuat tidak percaya bahwa kota ini berada di atas hamparan pasir. Bunga yang beraneka warna, rumput yang selalu dipangkas dan menghijau seolah tidak ada musim panas di negeri ini, pohon kurma dengan aneka jenis yang ditanam teratur sedemikian rupa. Aku pernah bertanya kepada petugas tanaman mengenai jenis pohon kurma yang ditanam.
Dari beberapa jenis pohon kurma asli emirat yang cukup dikenal adalah Khanizi, kurma ini berwarna kemerahan. Rasanya manis dan akan lebih lezat tentu saat kita memetiknya masak-masak dari pohon kurma. Selebihnya Naghal dan Barhy yang berwarna kuning. dari semua keindahan kota Abu Dhabi Tampak bahwa Seolah-olah penguasa negeri ini sedang menjadikan Abu Dhabi sebagai halaman depan rumahnya. betapa berharganya tumbuhan di negeri ini maka siapapun yang kedapatan merusak akan dikenakan denda atau sangsi. Beda dengan negeriku yang tumbuhan dan hutannya seperti tak ada arti. Semua dibabat habis. Lihatlah sekarang, banjir, longsor, kebakaran karena pembukaan lahan ada dimana-mana. Kita miskin tapi kita makin tidak tahu diri. Seolah kita bebas melakukan apa saja dan semua orang harus memaklumi.
Corniche adalah area favorit saat ‘winter’ di Abu Dhabi. Di hari libur para keluarga migran akan tumplek di sepanjang Corniche. Area publik ini memang layak dijadikan tempat untuk rekreasi. Pantai yang bersih dengan area publik dan trotoar yang memadai, rumput yang terawat rapi cocok untuk lesehan sambil menikmati makanan yang sudah dibawa dari rumah. Beberapa pasangan muda-mudi ‘bule’ asik bercengkrama sambil menikmati pemandangan para pemain jetboat remaja lokal yang saling berkejaran dan terkadang sesekali dengan sengaja mencipratkan air laut dengan jetboatnya. Biasanya kerumunan muda-mudi ini bubar menghindari cipratan air laut sambil melepaskan tawa. Masih di sekitar corniche atau seberang emirates Palace yang berdiri bak Istana Raja 1001 malam, para pemancing dadakan berjejer menunggu ikan hasil tangkapan lewat kailnya.
Di Abu dhabi memang menyediakan area publik yang bertebaran di semua pejuru kota. Tidak seperti di kotaku yang menjadikan area publik sebagai ajang berdagang para kaki lima. Semua menjadi tampak semrawut saat hak pejalan kaki pun diserobot untuk tempat berjualan. Tidak ada yang peduli hak pejalan kaki. Di Corniche semua aktivitas publik bisa dirasakan dengan nyaman. Mereka yang jogging sambil mendengarkan musik lewat ipodnya bisa dengan leluasa berlari sepanjang Corniche tanpa perlu terhenti oleh para pedagang yang menghalangi trotoar.
Ya, Abu Dhabi memang mampu menyihir berjuta imigran untuk mau hidup dan tinggal di atas kota ajaib ini. Aku sendiri bisa membayangkan bahwa tidak mudah menyulap kota di pesisir pantai yang dulu terkenal banyak tribal berkeliaran ini menjadi sebuah taman bunga teluk Persia. Padahal sebelumnya Abu Dhabi bukanlah ibu kota pemerintahan negeri ‘para syaikh’ ini. Sebelum abad 18, Pulau Liwa adalah tempat para bedoin dari klan Al Bu falah mengatur pemerintahan. Bani Yas dari klan Al Bu Falah salah satu suku bedoin yang berpengaruh memindahkan ’pusat pemeritahannya’ ke Abu Dhabi guna mengamankan dari pengaruh infiltrasi para pasukan Wahabi dari kerajaan Saudi. Abu Dhabi sendiri memang sebuah pulau dimana ia dikelilingi 2 hulu sungai dan di belakangnya terdapat sebuah laguna. Menjadikannya seperti sebuah pulau yang terisolasi yang cocok sebagai benteng pertahanan yang alami. Kondisi di gulf padang pada saat itu memang begitu rawan dan kawasan cikal bakal Emirat sekarang ini menjadi wilayah perebutan politik antara penguasa Oman dan Saudi. Campur tangan Inggris yang memang piawai dalam soal menjajah secara ‘elegan’ membuyarkan impian mereka yang ingin melebarkan kekuasannya sampai ke emirat. Lewat kongsi atau perwakilan dagangnya Inggris mulai mengendus ada emas hitam di bawah pasir para syaikh ini. Dan di era tahun 60an lah emas hitam ini mulai menjadi mata pencaharian warga emirat yang sebelumnya hanya pengrajin mutiara dan nelayan biasa.
Sambil menikmati chay di atas gedung pencakar langit ini aku aku pandangi kesibukan Kota Abu Dhabi di pagi hari. Semua terlihat beraktifitas ke tempat kerjanya masing-masing. Sebagian memilih berjalan kaki menikmati musim dingin sambil menghangatkan tubuh di pagi hari. Tak ada hiruk pikuk atau kemacetan berarti. Lalu lintas begitu tertib. Abu Dhabi mengadopsi standar Swedia dalam hal peraturan lalu lintas. Agar tingkat kecelakaan bisa ditekan serendah mungkin. untuk urusan SIM, di Abu Dhabi terkenal sangat sulit untuk mendapatkannya. mereka yang ingin memiliki SIM diharuskan mengikuti pelajaran teori terlebih dahulu dan harus lulus ujian teori. Tidak ada sogok menyogok. Dilanjutkan ujian praktik meliputi parkir dan on the road. Siapapun yang ingin memiliki SIM harus sabar melewati semua tahapan. Dan itu berlaku untuk semua warga Abu Dhabi termasuk lokal. Aku sendiri terkadang ingin tertawa jika ingat peraturan di negeriku. Sebelum daftar saja petugas sudah menawarkan harga. Tapa test SIM mudah di dapat. Kemiskinan memang semakin membutakan kita berperilaku tidak sewajarnya.
Di tengah udara dingin memang paling asik berjalan kaki. Agar otot dan tulang tidak terasa kaku kalau digerakkan. Dari tower etisalat tampak kulihat Qasr Al Hosn berdiri tegak. Sebagai simbol bahwa Warga lokal tidak melupakan sejarah para pendiri negara ini. Sekalipun banyak hotel dan gedung tinggi menjulang, Qosr al Hosn dibiarkan seperti bentuk asli berikut ‘buruj’ menara khasnya. Aku memang tidak bisa menyembunyikan rasa iri dari keberhasilan pemimpin negeri ini. Di negriku memang banyak mengandung emas, minyak, gas alam, dan semua anugerah dari darat sampai laut. Tapi sayangnya rakyat di negeriku masih berbalut kemiskinan. Semestinya para pemimpin lah yang bisa mengubah wajah rakyatnya. Jika ia memimpin dengan benar dan hatinya tulus maka rakyat yang akan merasakan kesejahteraan. Dahulu negeriku punya Soeharto yang dengan program repelitanya negeriku bisa menikmati swasembada beras. Sayang, dalam perjalanannya kkn menjadi batu sandungan.
Kadang rakyat negeriku sering berkilah dengan alasannya penduduk yang jumlahnya banyak dan tidak sesuai dengan hasil alamnya. Padahal kekayaan segelintir orang yang menjadi pemimpin dan warga yang berkolusi dengannya cukup menjadikan semua warga negara menjadi sejahtera. Hal yang aneh jika bank-bank di Singapur di penuhi oleh pundi-pudi kekayaan segelintir anak negeri yang jumlahnya amboiy bisa membuat warga sejahtera beberapa dekade. Artinya ada yang salah dengan pengelolaan penghasilan negara yang katanya diatur dengan undang-undang. Dulu, harta Ibnu Sutowo mantan direktur Pertamina diributkan oleh ahli warisnya. Mestinya harta itu milik rakyat Indonesia. Darimana Ibnu mendapatkan harta sebanyak itu? apa murni dari gajinya? seberapa besar gaji direktur? kalau mau jujur saja hal seperti itu sudah menjadi indikasi ada yang tidak beres. Tapi entahlah, kita memang tidak boleh asal menuduh kalau memang tidak bisa dibuktikan.
Sambil membuka email serta melajutkan sisa pekerjaanku yang kemarin aku ambil kembali sobekan kertas disaku. Pagi ini memang terasa berbeda bagiku terutama setelah menemukan sobekan kertas ini. Hidup di apartemen memang sangat terbatas dengan sosialisasi apalagi kami tinggal di negara yang mempunyai budaya tertutup. Sekalipun Abu dhabi mencoba melangkah menjadi kota modern sistem bermasyarakatnya tetap tertutup. Memang dibeberapa mall kita bisa menjumpai dengan leluasa wanita cantik bertebaran dengan lekuk tubuh aduhai yang mudah dinikmati. tapi jangan coba-coba untuk menggoda atau menyapa tanpa maksud yang jelas karena bisa-bisa urusannya dengan polisi. Nilai privasi memang dijunjung tinggi. Aku sendiri selama 3 tahun belakangan ini tidak tahu siapa saja penghuni flat yang satu lantai denganku. Sangat jarang bagi kami untuk menyapa atau sekedar bertegur sapa. Bertemu pun hampir tidak pernah. Hal yag unik jika ingin mengeal atau tertarik dengan lawan jenis cukup menuliskan pada sobekan kertas no hp. Ada yang menjatuhkannya di depan pintu apartemen atau di wiper mobil. Biasanya jika si perempuan sudah yakin dan ngebet betul dengan lawan jenisnya. Yang aku alami saat ini bisa saja sebuah penjajakan atau memang miss mistery ingin ‘menyiksa’ diriku dengan rasa penasaran. Aku sendiri merasa yakin pernah bertemu sebelumnya dengan miss mistery tapi etah dimana dan ‘ngeh’ atau tidak.
Kucoba memutar kembali ragam aktivitas rutinku di Abu Dhabi. Selain fotografi dan ‘wisata kuliner’tidak ada aktifitas lain. Selebihnya hanya aktifitas komunitas antar sesama warga Indonesia. Fotografi memang hobi yang melibatkan hubunganku dengan sesama warga imigran dan lokal. Sedangkan wisata kuliner memang kesukaanku mencoba aneka masakan negara lain. Mumpung masih tinggal dan kerja di Abu Dhabi tidak ada salahnya lidahku bisa merasakan masakan negara lain. Mulai dari masakan India, Arab, turki, Libanon, Mesir, eropa, Filipin, Jepun, dll. aku pernah mencobanya. Terkadang aku tidak bisa meneruskan masakan yang aku pesan karena rasanya tidak bisa diterima oleh perut. Sayangnya masakan Indonesia sangat jarang. Hanya bisa dijumpai di restoran Bandung. Sebuah restoran di kawasan bahariah yang menjual masakan khas Indonesia. Di situ pun aku hanya bisa memilih nasi gorengnya saja sedangkan rasa masakan yang lainnya belum pantas di bilang enak. Satu hal yang kurang
Digenggaman tanganku saat ini seperti sebuah kode rahasia yang minta untuk dipecahkan. Aku bukan seorang Landon dalam Da Vinci Code yang mampu memecahkan kode-kode rahasia Leonardo Da Vinci. Aku hanyalah seorang buruh migran lajang yang terdampar di sebuah komunitas warga dunia yang unik dan asing. Sekalipun roda kehidupan seolah bergerak normal namun tetap saja aku tak mampu membuka selimut tabir tipis misteri yang menyelimuti. Semua rahasia ada di balik setiap pintu. Aku sendiri semula merasa gerah dengan pola kehidupan seperti ini. Di Abu Dhabi memang ada lebih dari 30 warga negara yang hidup berbaur. Mereka yang datang dari luar tentu untuk bekerja karena ada sponsor yang menjamin untuk tetap tinggal. Itulah yang menjadi syarat untuk mendapatkan residence visa alias visa untuk menetap.
Aku coba ketik ulang bait tulisan di google. Biasanya mister goggle memang serba tahu. Dunia terkadang di satu sisi penuh tabir misteri tapi di satu sisi alias di dunia maya semua begitu gamblang dan tidak ada rahasia. Sampai untuk urusan catatan harian yang pribadi manusia menuliskannya dalam blog. dan…Gotcha! sepertinya mister google tahu bait tulisan yang dimaksud. Aku harap misteri ini sudah mulai terkuak.
bersambung
Duh resep nya saling bertukar pengalaman sareng nu ngumbara.
Ngiring patepang, sareng urang Sunda
Salam kenal ya mas ( biar akrab ala Indonesia )..maaf tadi kesasar ampe ke Blog yg asyik ini..txs banget ya coret2nya yg ngajak jalan2 k UAE ( imajinasi tinggi, wakakaka )..tp kata ‘buruh migran’ bisa diganti kata laen ga? kesane ’soro’…hehehe…woya pernah k kamp2 di tengah gurun yaa? woaa bisa lihat penari Libanon dunk…aq py teman di Sharjah, dia juga sering cerita2 ttg Dubai..kalo butuh teman, call me ya, mumpung msh singgle neeh…ups!!!! ya wis ati2 di negri orang yahc, semangaaat …!!!!!
uppsss…nyasar ke blog anad ney…
boleh juga…bisa bagi2 info cara dapetin kerja disana ga?disini susah bgt cr infonya.apa qu yg ga bisa yach :-p
qu pgin bgt kerja disono…itung2 perbaiki nasib..he3…
boleh tau emailnya ga???
tlg bales ke email yach
tq
Ini bukan imajinasi !!!!!!
Semua nyata…. saya sudah 1,5 tahun tinggal di abu dhabi.
Selamat datang di peradaban dunia. Kau tidak akan percaya, ada istana emas yang dibangun diatas gurun.
Salam kenal, lg nyoba cari-cari info ttg kehidupan di abudhabi ..alhamdullilah dapet gambaran dari tulisanmu..
krn di Indonesia rada-rada susah nyari kerja dgn salary tinggi sedangkan pengalaman n kemampuan pas-pasan mknya kita sekeluarga ada niatan mo ke Qatar or abu dhabi….
pilihannya pengennya ke abu dhabi..ada adik temen sekantor skrg yang dah lama jd student disana n lumayan akrab dgn orang2 KBRI.
Mudah-mudahan Allah mengizinkan..tp hrs mengurus dokumen dulu…paspor suami n my little son yang baru 8 bulan…td baru tau ternyata dibawah satu tahunpun pake paspor ya he..he..he…
kalo husband krn pendidikannya SLTA pengennya kerja di Oil Company or driver or anything else yg penting halal, sedangkan aq sendiri punya experience cukup lama di keuangan mesti perusahaannya ganti melulu….
mudah-mudahan ada info yang bisa dikirim ke emailku terkait dgn job vacancy utk suamiku n aq…
thanks ya…
hallo..mbak sania, mbak ayu..
maaf yah..aku baru respon. aku memang rada bete akhir2 ini. update tulisan aja males.
Mbak sania, aku percaya..ada istana di atas gurun. kalau dikau sudah pernah berkunjung…kapan2 ajak daku yah hehe
mbak ayu,
syukur deh kalau dirasakan bermanfaat..
mudah2an yang mbak rencanakan terbaik untuk keluarga dan bisa terwujud. amien…
salam kenal juga..