Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Pantai di salah satu ceruk jazirah Arabia di tepian teluk persia pagi ini, Sabtu 24 Desember 2011 tampak tenang dan nyaman. Beberapa kapal tanker sedang membuang jangkarnya. Tempat ini memang tidak pernah sepi dan merupakan wilayah yang sangat penting semenjak ribuan tahun silam. Halford Mackinder-1904, seorang pakar geografi dan teorisian terkenal Inggris di bidang ilmu geo-politik bahkan menyebut Teluk Persia sebagai heartland atau jantung dunia.

 Erythros Lanjut Baca »

 Tidak mudah menarik massa untuk masuk ke pusaran literasi. Budaya baca dan tulis apalagi menjadi seorang penulis masih merupakan hal yang asing bagi kita, orang Indonesia. Namun tentu minat dan kepedulian ini sedang terus dipompa dan dibakar oleh orang-orang yang hidupnya didedikasikan untuk ini.

  Sekali lagi, mengapa harus ada Indonesia membaca? Mengapa mesti ada workshop be a writer? Toh semua baik-baik saja bukan? Hidup kita sudah terlalu jenuh  membicarakan buku, buku, buku, karena pada saat yang sama mulut para pembual mengoceh tentang nasib negeri yang setiap harinya dijejali masalah yang sebentar lagi tutup tahun maka tutup pula kisahnya. Oh iya, soal pertanyaan diawal paragraf tadi. Ya, Pertanyaan degil ini memang selalu muncul dimanapun dan kapanpun. Seolah kebutuhan manusia dibatasi oleh syahwat dan isi perut belaka. Seperti cara berpikir penguasa yang gemar memperlakukan rakyatnya seperti kerbau. Sediakan rumput hijau dan seketikan berhenti berpikir karena siang- malam memamah biak. Lanjut Baca »

Saya sering tergelitik rasa penasaran untuk tahu wahyu pertama apa yang diberikan Tuhan pada setiap utusan-Nya.
Ketika Nabi Adam kali pertama diciptakan, Tuhan membanggakannya di hadapan malaikat, jin, dan iblis dengan meminta Adam menyebutkan nama-nama. Akan tetapi, setelah itu tidak diketahui apa wahyu yang diterima Adam saat kali pertama diturunkan ke bumi, masih berkutat soal “nama-nama”? (Dalam artian membaca).

Bagaimana dengan Ibrahim? Yusuf? Moses (Musa)? Solomon (Sulaiman)? Hingga Yesus (Isa) alaihissalam. Adakah sebuah kebetulan atau keistimewaan saat kemudian pada era Muhammad saw. wahyu yang pertama turun adalah “Iqra!”, “Bacalah …!”. bukan “Sembahlah ….”, atau “Bertasbihlah …!”, atau lainnya. Tetapi “Bacalah!” (Think, proclaim, declaim, etc.). Lanjut Baca »

Salik, Jalan Cinta

Jangan pernah ditanya
orang yang sedang mabuk cinta
segara..tak kan mampu meredamkan
gelora api asmara
pernah merasakan cinta?
sesungguhnya cinta?
cinta membakar semua dendam menjadi abu Lanjut Baca »

Arafah lautan Cinta

Ada hal yang menarik saat berbicara tentang Haji. Seperti diketahui, setiap muslim dari penjuru dunia datang ke Mekkah dengan alasan yang sama ingin menjumpai ka’bah. tetapi..pertanyaan menariknya adalah, kenapa justru ibadah haji adalah wukuf di ‘arafah?
bukan di masjidil haram..yang menjadi kiblat ummat Islam. Lanjut Baca »

romansa

Kita tidak pernah menduga
saat kisah yang hadir
bagai romansa rintik hujan
di pagi hari
Kau, Aku
berselimutkan kehangatan
dari tungku api rindu
yang baranya hangatkan jiwa

Rindu

Rindu

seperti butiran hujan yang melebat

saling berkejaran menyentuh kulit bumi

seriuh dan segaduh percikannya

meluber tumpah dari paritparit hati

menggenangi jantung, empedu, paruparu, mulut, mata.

hingga

aku mati dalam hasrat

Rindu Arafah

Aku merindukan arafah.

Berada diantara hamparan jutaan manusia.

Kau, aku, kita merasakan kenikmatan yang sama. Lanjut Baca »

Solidarnosc

Ketika saya bertanya pada seorang alim dari Hedarabad India.

“kenapa Allah mesti mengatur waktu solat? bukankah DIA ada kapan saja? dan kita tak perlu bersusah payah menunggu waktu hanya ‘katanya’ untuk sekedar bertemu”.

“We should able to pray anytime..” seloroh saya.

Ia tersenyum seperkedipan mata. Kemudian menjawab. Lanjut Baca »

E ntahlah apa yang menghinggapi isi kepala saya sehingga tergerak untuk menulis genre baru, Cerman-Cerita Teman. Mungkin ada yang ingin bertanya, kenapa saya tidak menceritakan tentang diri sendiri saja? Bagaimana hidup di sini, menatap sepanjang kanan kiri jalan yang datarrrr sedatar- datarnya. Coklat pucat yang kadang-kadang tampak dari kejauhan sembulan seperti bukit. Apapun yang ada di balik itu mungkin ujung dunia, mungkin kampung abah Imin, atau mungkin juga Afrika karena kami jarang berminat untuk menelusuri alam terjal nan gersang. Dunia hanya sebatas gundukan-gundukan yang tampak gagah setelah hamparan datar tanah kosong yang didiami makhluk yang suka memendam rahasia. Seperti orang arab jahiliah dulu, kira-kira seperti itu mereka memandang dunia hanya sebatas gunung abajan. Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.